Siapa Bilang Mencontek saat Ujian Dilarang?

Bismillah..
Ku tuliskan sedikit ini untuk mu ya akhi. Barakallaahu Fiikum
Iya, sebentar lagi. Dalam hitungan detik yang berlarian, tak lama lagi kita melaksanakan Ujian Nasional bersama. Biidznillahi Ta’aala, semoga Allaahu Rabbul ‘Alamin mudahkan.
Ada rasa suka nan duka, gembira menanti libur yang panjang laksana pengangguran kata orang, sedih karna tak siap, juga rindu kampoeng halaman, dan rindu kan seseorang nan jauh di sana.
Ujian Nasional adalah prinsipnya sama seperti ujian yang di adakan di sekolah waktu kelas X dan XI. Sama persis, hanya saja Ujian Nasional ini lah pucuk tonggak perjuangan kita di dan untuk SMA 1 Purwokerto. Karena dengan Ujian Nasional juga, kita kan membawa Nama dan Eksistensi SMA 1 Purwokerto dalam kancah pendidikan.

Kawan, mari kita jujur apa itu arti mencontek. Pastilah saya yakin semua sudah tau apa arti menyontek yakni kurang lebih kegiatan melihat lalu menyalin jawaban teman ke lembar jawaban pribadi ataupun membawa kertas kecil yang berisi materi yang memberikan keuntungan atau mempermudah ketika kita menjawab soal ujian. Ataupun tipe lainnya yang saya kurang tau, biasanya tiap waktu ada variasi mencontek.

Sadarkah ketika kita mencontek lalu memberikan lembar jawab kita kepada Guru. Lantas Bapak Ibu guru senang melihat jawaban lembar kita yang nilainya bagus?padahal itu bukan jawaban kita, padahal itu jawaban teman kita, padahal kita tidak menguasai materi hanya menyalin saja?Bukankah ini merupakan PENIPUAN?Bukankah Nabi kita pernah berkata tentang masalah ini..

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ta’aala ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
“Barangsiapa yang menipui, maka ia tidak termasuk golongan kami.”
(Shahiih, Riwayat Imam Muslim no. 101 dalam Shahiih-nya).

Ya akhi..berbuat lah jujur, karena ia akan mengantarkan kepada kebaikan

Dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyaallahu ta’aala ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.”
(Shahiih, riwayat Imam Muslim no. 2607 dalam Shahiih-nya)

Maha suci bagi Allah dari segala perbuatan buruk hamba – hambanya. Ya Allaahu ‘Azza wa Jalla, bantu dan tolonglah kami dan istiqomahkan kami untuk menjauhi segala bentuk kemaksiatan kepadamu dan kami bertaubat kepadaMu ya Allah..

Jika kita melihat sisi lain bagi yang dicontek, tidaklah menyesalkah bila yang menyontek mendapat hasil ujian yang lebih tinggi daripada Anda yang dicontek???Mari kita berbicara jujur dengan hati kita masing masing. Artinya, kerjasama saat di ‘medan perang’ ujian adalah kesia-siaan, karena teman Anda hanya memanfaatkan diri Anda, dan Anda tidak sadar telah dimanfaatkan. Hal ini sering terjadi. Yang namanya kompetisi, maka setiap peserta harus bersaing, bukannya malah bekerja sama. Karena yang namanya Sang Juara itu hanya dimiliki oleh satu orang, bukan tim / kolektif.
Adapun bahaya jangka panjang seperti kata pepatah, “Siapa yang menanam, dia akan menuai hasilnya kelak.” Kalau itu adalah kejelekan yang ditanam, maka tunggu hasil jeleknya kelak. Bila seorang siswa terbiasa menyontek, maka kebiasaan itulah yang akan membentuk diri. Beberapa karakter yang dapat ‘dihasilkan’ dari kegiatan menyontek antara lain,
1. Mengambil milik orang lain tanpa ijin
2. Menyepelekan orang lain
3. Senang jalan pintas dan malas berusaha keras
4. dan Kehalalan pekerjaan dipertanyakan.

Bisa dipastikan, saat siswa sudah dewasa dan hidup sendiri, tabiat-tabiat hasil perilaku menyontek mulai diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti mencuri, korupsi, manajemen buruk, pemalas tapi ingin jabatan dan pedapatan tinggi.

Ada sebuah pertanyaan yang diajukan kepada Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullaahu ta’aala (pernah menjadi ketua dari Dewan Risen Ilmu dan Fatwa (al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta’ Saudi Arabia).
Beliau pernah ditanya, “Ada seseorang yang bekerja dengan ijazah namun saat ujian ia telah berbuat curang (bohong) dan berhasil meraih ijazah tersebut. Adapun saat ini ia bekerja dengan baik karena hasil dari ijazah tersebut. Apakah gajinya itu halal atau haram?”
Syaikh Ibnu Baz menjawab, “Tidak mengapa gajinya tersebut Insya Allah. Namun ia punya kewajiban untuk bertaubat karena dahulu telah berbuat curang saat ujian. Pekerjaan yang ia tempuh saat ini tidaklah bermasalah. Namun ia telah berdosa karena melakukan kecurangan di masa silam. Kewajibannya adalah bertaubat kepada Allah dari perbuatan tersebut.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 31: 19).

Iya. Marilah kita senantiasa bertaubat kepada Allaahu ‘Azza wa Jalla setelah apa yang kita dapatkan selama ini. Seorang anak cucu adam pastilah pernah terjatuh kepada dosa, dan sebaik baik anak cucu adam adalah yang bertaubat setelah melakukan kesalahan.
Jika kita pernah melakukan kesalahan ketika dahulu anggap saja kenangan kenangan lama itu sebagai mendung yang hanya sesaat melintas. Engkau yang telah memilih jalan kebaikan ini. Mendung- mendung itu pasti akan berlalu.

Sebab, langit akan tetap bening..

Peganglah janji Allaahu Jalla Dzikruhu yg disampaikan oleh rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam..
“Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allaahu ‘Azza wa Jalla, kecuali Allah akan menggantikannya bagimu dengan yang lebih baik bagimu.” (Shahiih, Riwayat Imam Ahmad)
Ya Rabb, ampunilah kami apabila dahulu kami pernah lalai..Engkaulah Dzat yang Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang hamba hamba Mu..

Sebuah nasehat ringan di akhir tulisan ini. Ya akhi, JANGAN BELI KUNCI UJIAN NASIONAL!

Perhatikan hadits berikut kawan, walaupun sanadnya Dha’if (lemah) namun dalam Islam masih boleh di pergunakan jika hanya untuk memotivasi dan bukan merupakan sebuah amal ibadah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Seorang hamba boleh jadi terhalang rizki untuknya karena dosa yang ia perbuat.”
(Dha’if, riwayat Imam Ahmad no. 282 dalam Musnadnya, sanadnya dhoif sebagaimana kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth)

Sebuah riwayat lagi bahwa Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah menuliskan surat kepada sahabat Nabi, Mu’awiyah.
“Barangsiapa mencari ridha Allah sedangkan manusia murka ketika itu, maka Allah akan bereskan urusannya dengan manusia yang murka tersebut. Akan tetapi barangsiapa mencari ridha manusia, namun membuat Allah murka, maka Dia akan serahkan orang tersebut kepada manusia.”
(Shahiih, riwayat Imam Tirmidzi no. 2414 dalam Sunannya. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahiih).

Coba perhatikan, lebih baik mana yang akan mengatur urusan kita, Allah ataukah Manusia yang lemah tak berdaya?Allahlah yang menciptakan kita dan sudah jelas janji Allah yang Maha Kaya untuk memberikan rizki kepada setiap makhluknya.

Semoga Allaah Rabb Alam Semesta memudahkan kita yang sebentar lagi menempuh ujian nasional. Semoga Allah mendatangkan kemudahan dan juga memberikan taufik kepada kita untuk berlaku jujur dan menjauhi kecurangan.

Apapun kondisinya… Bagaimanapun keadaannya… Seperti apapun hasilnya… Segala puji hanyalah milik Allah semata…

_Coordinate The Spirit of National Examination_
Dimas Jati Panggayuh

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: